"Usulan dana Rp 3 triliun ini nanti masuk ke Menteri Keuangan. Selanjutnya masih harus diketok palu di DPR. Anggaran ini khusus untuk perbaikan rumah. Untuk pembagiannnya akan sama dengan gempa 2007 lalu," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Priyadi Kardono, Jumat (30/10). Perbaikan rumah rusak ini merupakan salah satu program dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, di samping perbaikan infrastruktur dan sarana publik. Total anggaran diperkirakan untuk tahap ini mencapai Rp 7 triliun. Sumber dana untuk perbaikan rumah diharapkan tak hanya datang dari pemerintah pusat. Pemerintah daerah diminta turut menganggarkan dana untuk kegiatan tersebut. Mengenai jumlah rumah rusak akibat gempa Sumbar, kata Priyadi, saat ini masih divalidasi. Diperkirakan jumlahnya tak akan sebesar data rumah rusak yang dirilis beberapa waktu lalu, yakni 135.233 unit rusak berat, yang kemudian direvisi lagi menjadi 119.005 unit per 27 Oktober lalu. Sumber : BNPB. Revisi data yang paling banyak dilakukan terhadap jumlah rusak berat di Kabupaten Padang Pariaman. Semula Pemkab Padang Pariaman menyampaikan jumlah rumah rusak berat mencapai 70.000 unit lebih. Namun, angka itu dinilai tak rasional oleh BNPB. "Kalau 70.000 unit rumah rusak berat, berarti kalau satu rumah itu ada lima orang, jumlah warga yang tinggal di rumah rusak berat mencapai 350.000. Ini jelas tak rasional. Jumlah penduduk Padang Pariaman saja cuma 350.000," kata dia. Semula, Pemkab Padang Pariaman bersikukuh dengan datanya. Namun, kemudian mereka luluh setelah BNPB mengultimatum bahwa setiap data diawasi dan penyaluran bantuan diawasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). "Untuk meminimalisasi penyelewengan, nantinya tiap rumah rusak yang masuk ke data akan dicantumkan foto penerimannya. Jadi, supaya jelas," tandas dia. Tanggal 31 Oktober ini pemerintah menutup masa tanggap darurat. Selanjutnya, di Sumbar akan dimulai tahap rekonstruksi dan rehabilitasi. Wakil Gubernur Sumbar, Marlis Rahman mengatakan, sesuai jadwal yang telah disepakati, seluruh kegiatan tanggap darurat bencana gempa di Sumbar telah dihentikan. Namun demikian, bantuan terhadap korban gempa tetap akan disalurkan, terutama warga yang sampai saat ini masih tinggal di pengungsian dan tenda. Berdasarkan data Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Sumbar, sampai saat ini masih ada 6.554 pengungsi korban gempa di Sumbar. Mereka adalah korban gempa di Kecamatan Malalak dan Tanjung Sani,Kabupaten Agam. Ribuan keluarga juga masih tinggal di tenda dan sebagian menumpang di tetangganya karena rumah mereka tak bisa ditempati lagi. Di Nagari Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Padang Pariaman, saat ini ada 1.800 keluarga yang tak lagi bisa menempati rumahnya. Sebagian tinggal di rumah sanak familinya di luar desa, dan sebagian lagi di tenda. Belum semua keluarga tersebut yang mendapatkan bantuan tenda. Warga berharap, meskipun tanggap darurat usai, bantuan logistik, terutama beras dan air minum masih disalurkan. Pasalnya, sebagian besar kini belum dapat bekerja. Lahan pertanian mereka banyak yang tertimbun. Selain itu, mereka masih trauma dengan gempa. Sumber : BNPB
31.10.09
3 Triliun Rupiah Perbaikan Rumah di Sumbar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
salam kenal...
BalasHapussoal dana tsb, apa tidak ada oknum yg bermain di sana..? ow ya,
Tolong bangetzz, saya mengharapkan dukungan Anda di artikel Ayo Ngeblog
ini berupa komentarnya... saya mengharapkan comment sobat di artikel ini untuk mendukung Ayo Ngeblog bersama-sama..