;

PEDULI BENCANA "SIAGA BROMO 2010"

Posko Lapangan FPBI "SIAGA BROMO 2010" Kegiatan : Kaji Cepat Kebutuhan dan Kerentanan, Shelter, Evakuasi, Trauma Healing Anak, Penerimaan dan Distribusi Logistik, Air & Sanitasi, Pembersihan Debu Vulkanik, Pemulihan & Pemberdayaan Pengungsi. Anda Peduli Pengungsi Bromo, Kab. Probolinggo, Prop. Jatim : Kirim Bantuan dan Dana ke Rek BCA 0183004392 (24 Des 2010) Terima Kasih

18.5.09

Lumpur Lapindo Cabut Anak-anak Dari Sekolah

Mungkin sesaat sesudah membaca tulisan ini, anda akan berpikir ulang dan bersyukur tentang peluang dan kesempatan untuk semua kemudahan akses akan pendidikan yang anda capai selama ini. Bandingkanlah dengan nasib apes anak-anak di sekeliling kita; yang terpaksa putus sekolah karena orangtua tak mampu lagi membiayai; lalu menjalani hari-hari yang hampa dan menatap masa depan dengan rasa gamang.

Seperti yang dialami anak-anak korban lumpur lapindo, karena orang tuanya belum mendapatkan ganti rugi dan kemudian berefek domino terhadap kelangsungan pembiayaan kehidupannya. Salah satunya adalah budget yang hilang adalah untuk biaya pendidikan anaknya; misalnya uang sekolah, uang buku, uang seragam dan belum lagi uang saku. Mustahil terpenuhi.

Ibu Suparni, 47 tahun mengalaminya setelah satu setengah tahun menunggu realisasi ganti rugi 20% nya yang tak kunjung diterima. Anak-anaknya yang bernama Kalim, Syahrul dan Basor dengan terpaksa berhenti sekolah, seolah tercabut begitu saja dari sekolah. Khalim yang sekolah kelas 2 Madrasah Tsnawiyah Khalid Bin Walid di Desa Renokenongo terpaksa bekerja di sebuah warung remang dari jam 16.00 sampai menjelang dini hari, menjadi pekerja anak di bawah umur. Syahrul yang sekolah kelas 5 dan adiknya Basor yang berekolah kelas 3 SDN Glagah Arum juga mengalami hal yang sama, tercabut dari sekolahnya karena tak punya biaya. Tim Forum Peduli Bencana Indonesia (FPBI) mencoba mencari solusi agar mereka bisa kembali bersekolah. Kepsek SDN Glagaharum menyatakan akan membantu seluruh proses pemindahan anak-anak tersebut agar bisa bersekolah kembali. Namun selain kebutuhan utama biaya sekolah, ternyata anak-anak tersebut telah kehilangan semangat sekolahnya, akibat dari situasi dan kondisi orang tuanya, di samping itu mereka tidak mendapat uang saku. Kehilangan gairah bersekolah dan tekanan psikis anak-anak tersebut juga mengendurkan keceriaan masa kanak-kanak sewaktu sekolah.

Kalau anda pernah membayangkan atau mencermati berapakah jumlah anak-anak Indonesia yang putus sekolah. Ternyata jumlahnya puluhan juta. Menurut data resmi yang dihimpun dari 33 Kantor Komnas Perlindungan Anak (PA) di 33 provinsi, jumlah anak putus sekolah pada tahun 2007 sudah mencapai 11,7 juta jiwa. Jumlah itu pasti sudah bertambah lagi tahun ini, mengingat keadaan ekonomi nasional yang kian memburuk dan banyak masyarakat yang terpuruk ekonominya karena menjadi korban bencana.

Ternyata, peningkatan jumlah anak putus sekolah di Indonesia sangat mengerikan. Lihatlah, pada tahun 2006 jumlahnya “masih” sekitar 9,7 juta anak; namun setahun kemudian sudah bertambah sekitar 20 % menjadi 11,7 juta jiwa. Tidak ada keterangan dari Komnas PA apakah jumlah tersebut merupakan akumulasi data tahun sebelumnya, lalu ditambah dengan jumlah anak-anak yang baru saja putus sekolah. Tapi kalaupun jumlah itu bersifat kumulatif, tetap saja terasa sangat menyesakkan.

Bayangkan, gairah belajar 12 juta anak terpaksa dipadamkan. Dan 12 juta harapan yang melambung kini kandas di dataran realitas yang keras, seperti balon raksasa ditusuk secara kasar–kempes dalam sekejap. Ini bencana nasional dengan implikasi yang sangat luas, dan bahkan mengerikan!

Anak-anak itu ada di sekitar kita. Mungkin beberapa di antaranya adalah anak tetangga Anda. Dan siapa tahu, salah seorang di antaranya masih kerabat Anda, tapi mungkin berada di tempat yang jauh atau korban bencana. Yang pasti, mereka adalah tunas-tunas harapan bangsa yang besar ini.

Menurut Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kasus putus sekolah yang paling menonjol tahun ini terjadi di tingkat SMP, yaitu 48 %. Adapun di tingkat SD tercatat 23 %. Sedangkan prosentase jumlah putus sekolah di tingkat SMA adalah 29 %. Kalau digabungkan kelompok usia pubertas, yaitu anak SMP dan SMA, jumlahnya mencapai 77 %. Dengan kata lain, jumlah anak usia remaja yang putus sekolah tahun ini tak kurang dari 8 juta orang.
Menurut Arist Merdeka Sirait, sebagaimana diberitakan surat kabar Kompas edisi Selasa (18/3),”Dampak ikutan, anak-anak yang berkeliaran di jalan-jalan di Jakarta juga akan terus bertambah. Setelah mereka putus sekolah tentu mereka akan berupaya membantu ekonomi keluarga dengan bekerja apa pun.”

Inilah potret buram dunia pendidikan Indonesia hari ini. Kalau ternyata Anda tiba-tiba diliputi rasa bersalah, prihatin dan cemas setelah melihat potret jelek pendidikan kita, beryukurlah, ternyata Anda masih normal dan memiliki moral yang tinggi. Dan bersyukurlah, karena bukan Anda atau kerabat dekat Anda yang hari ini terpaksa putus sekolah, Sementara pasangan Capres dan Cawapres masih saja nekad membuat jargon-jargon dan janji-jani untuk mengecoh masyarakat—seolah-olah perekonomian dan pendidikan nasional akan lebih maju pulih dan bangkit. Sedangkan di sisi lain Bencana Kegagalan Teknologi Lumpur Lapindo juga terdapat anak-anak yang terpaksa tercabut dari sekolahnya. Ironi!

2 komentar:

  1. Benar, lumpur lapindo telah mencabut anak2 dari sekolah dan kampung halamannya..

    BalasHapus

Anda Peduli

Pengelola

Tukar Link


peduli bencana

Link

Blog Archive

 

Copyright © 2009 by FPBI